Tampilkan postingan dengan label Info Tentang Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Tentang Remaja. Tampilkan semua postingan

Senin, Desember 28, 2009

Tip Mengatasi Kecemasan

Oleh Surya Handayana

Kecemasan bukanlah sesuatu yang membahayakan dan menakutkan, jika kecemasan dan kekhawatiran itu sudah dalam tahap yang berlebihan segera ambil tindakan untuk mengatasinya, akan tetapi pada kondisi tertentu, kecemasan bahkan bisa memotivasi seseorang untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Cara berikut ini mungkin bisa membantu untuk mengatasi kecemasan :


1. Mengetahui batas kemampuan Anda

Ciptakan dan prioritaskan tujuan hidup Anda, baik kehidupan pribadi maupun professional, Jabarkan pelaksanaannya dalam bentuk mingguan, bulanan, atau jangka waktu tertentu sehingga anda dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan atas kemampuan anda.


2. Percayai diri Anda sendiri

Setiap kali Anda menghadapi suatu masalah segeralah ingatkan diri sendiri bahwa Anda akan bisa menghadapinya dan mengatasinya. Untuk mengurangi kecemasan pada saat menghadapi masalah cobalah mengingat kesuksesan yang pernah Anda raih, sekedar untuk memastikan bahwa Anda memang berpotensi dan menambah semangat untuk segera mengatasi masalah tersebut

3.Persiapkan menghadapi resiko terburuk

Walau Anda berpikir dengan optimistis, tak ada salahnya mempersiapkan diri menghadapi resiko yang terburuk

4. Selalu berharap yang terbaik

Meski harus selalu bersiap menghadapi resiko terburuk, Anda tak boleh berhenti berharap akan hasil yang terbaik dan tetaplah berpikir dan berperilaku positif, mengharap keadaan yang terbaik. Hal ini akan memacu Anda untuk hidup dengan baik. Tentu saja, harapan ini tidak sekedar harapan, Anda harus menyertainya dengan kerja keras dan doa!

5. Cari pertolongan

Bila Anda merasa tidak mampu menahan atas masalah yang dihadapi carilah bantuan dan pertolongan karena anda hidup tidak sendirian. Anda bisa berbagi masalah dengan keluarga, sahabat, teman, atau konsultan. Cobalah diskusikan dan bicarakan jalan keluar dari permasalahan Anda.

6. Cari kesibukan

Cara lain untuk menghilangkan kecemasan yang berlebihan adalah dengan menjaga Anda tetap sibuk atau mencari kesibukan sehingga akan terhindar dari kecemasan yang anda alami.


7. Buat daftar ketakutan Anda

Catatlah segala ketakutan dan kecemasan Anda dalam sebuah buku. Ketika Anda merasa cemas, bacalah dan sadarilah bahwa ternyata Anda masih tetap hidup dengan baik selama itu. Ketika Anda bisa mengatasi satu kecemasan, coretlah kecemasan itu. Percayalah, lambat laun kegelisahan Anda akan lenyap. Jangan pernah berpikir bahwa kecemasan itu tak kan hilang dari kehidupan Anda.


Baca Selanjutnya.....

Senin, September 07, 2009

Problema Masa Remaja

Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat erupakan the best of time and the worst of time.

Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja :

  • Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif.Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi.Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental.
  • Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikap-sikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu.
  • G. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan).

Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 11-13 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin, 2003). Pada rentangan periode ini terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Oleh karena itu, para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s.d. 14-15 th); dan (2) remaja akhir (14-16 th s.d.18-20 th).

Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan, baik secara fisik maupun psikis, yang mungkin saja dapat menimbulkan problema tertentu bagi si remaja. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat, bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantaranya :

Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik.
Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang
penting, namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Begitu juga, perkembangan fisik yang tidak proporsional. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual.

Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa.

Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Namun ketika, si remaja tidak mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual, terutama melalui pendidikan di sekolah, maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. Begitu juga masa remaja, terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana, menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. Tidak bisa dipungkiri, dalam era globalisasi sekarang ini, penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional, sosial, dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya.

Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial, moralitas dan keagamaan.

Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial), yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan dalam dirinya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya, namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya, termasuk dengan guru di sekolah. Hal ini disebabkan pada masa remaja, khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen, di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri, namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua, terutama secara ekonomis. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi, hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada, jika tidak terbimbing, mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya.

Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian, dan emosional.

Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas pun, banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.

Selain yang telah dipaparkan di atas, tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. Timbulnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja menjadi amat penting. Dalam hal ini, peranan orang tua, sekolah, serta masyarakat sangat diharapkan.

Baca Selanjutnya.....

Rabu, Juli 08, 2009

Memasuki Masa Pubertas Tanpa Gejolak

Masa remaja, suatu masa yang setiap orang pasti melewatinya. Begitu menyenangkan namun tidak sedikit yang merasa bingung dan gundah. Kenapa ?Seringkali seorang anak memasuki masa remajanya tanpa bekal yang cukup, terutama tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya sehingga dapat menimbulkan ketakutan dan keresahan. Hal ini kadang juga dibarengi dengan perasaan malu bertanya kepada orang tua dan lebih memilih tanya pada teman sebaya yang notabene juga senasib dengannya alias sama-sama gak tahu.

Masa pubertas

Masa remaja identik dengan masa pubertas karena pada masa ini telah terjadi kematangan organ reproduksi sehingga terjadi perubahan fisik dan emosi. Perubahan ini adalah suatu hal yang wajar, yang harus mereka kenali dan fahami agar lebih siap, dapat bertanggung jawab terhadap perubahan tersebut, dan tidak menimbul gejolak yang berlebihan. Terjadinya perubahan ini waktunya tidak sama pada tiap-tiap anak. Umumnya pada remaja putra 11 – 15 tahun, sedang pada remaja putri biasanya terjadi pada usia 9 – 13 tahun. Kematangan alat reproduksi pada remaja putra ditandai dengan keluar air mani (ejakulasi) yang pertama, yang ditandai dengan mimpi basah, kemudian suara menjadi lebih berat, jakun lebih menonjol, dan tumbuh rambut pada beberapa bagian tertentu. Adapun tanda kematangan alat reproduksi pada remaja putri berupa pinggul mulai membesar, banyak keringat yang sering diikuti timbul bau badan (BB), haid pertama, jerawat, tumbuh rambut halus pada ketiak, kaki, kelamin luar. Tanda perubahan fisik ini juga dibarengi dengan terjadinya perubahan psikis diantaranya mulai tertarik pada lawan jenis, tidak PD, gelisah, perasaan ingin bersaing.

Tanpa Gejolak

Munculnya tanda-tanda pubertas seringkali menimbulkan gejolak tersendiri bagi seorang remaja. Hal ini dapat diminimalkan dengan adanya dukungan dari orang tua, guru, dan lingkungan berupa bimbingan dan arahan tentang apa dan bagaimana mereka melewati masanya. Remaja tetap berhak melewati masa pubertasnya dengan ceria tanpa hambatan yang berarti. Ada hal-hal penting yang bisa dilakukan remaja lebih dari sekedar memikirkan perubahan atau kekurangannya antara lain mengembangkan hobi dan kreatifitas, mengembangkan persahabatan, meningkatkan nilai spiritual, meningkatkan prestasi dan mengembangkan pengetahuan. Sedangkan untuk mengatasi ke-kurangpede-an karena perubahan diri, setiap remaja hendaknya selalu menjaga kebersihan dan kesehatan tubuhnya, khususnya organ reproduksinya dengan cara mandi 2x sehari, keramas 2-3x seminggu, rajin membersihkan muka, mengatasi BB dengan deodorant/sejenis, mengganti pakaian dalam setiap hari, makan makanan bergizi, dan olahraga teratur. Dengan pengetahuan yang cukup dan dukungan yang optimal diharapkan para remaja dapat melewati masa pubertasnya tanpa gejolak.

Apa itu mimpi basah?

Remaja laki-laki memproduksi sperma setiap harinya. Sperma tidak harus selalu dikeluarkan, ia akan diserap oleh tubuh. Sperma bisa dikeluarkan melalui proses yang disebut ejakulasi, yaitu keluarnya sperma melalui penis. Ejakulasi bisa terjadi secara alami (tidak disadari oleh remaja laki-laki) melalui mimpi basah.

Tips merawat kebersihan organ reproduksi

  1. Jangan memakai celana dalam yang terlalu ketat (torsio, mengganggu spermatogenesis).
  2. Khitan, bagi laki-laki, untuk menjaga kebersihan penis (kulit yang menutupi ujung penis).
  3. Haid. Saat haid rajin berganti celana dalam dan pembalut
  4. Membersihkan/membilas setelah buang air kecil.
  5. Celana dalam harus bersih, sering diganti, dari bahan yang menyerap keringat.

Baca Selanjutnya.....

Jatuh Cinta vs Patah Hati

Jatuh cinta itu, pasangannya sama patah hati. Entah bener atau nggak, tapi ada pernyataan klasik yang dah sering aku denger dari zaman SMP, "Saat kamu jatuh cinta, saat itu pula kamu harus siap untuk patah hati". See? Yah, meski buatku ada benarnya ada tidaknya. tergantung objek yang kita -jatuhcinta-in itu...

Jatuh cintaku, waktu SMA tentunya. Dengan cinta itu pula aku belajar merajut mimpi, merancang harapan, mewujudkan keinginan. Meski tak lepas juga dari andai-andai dan angan. But that's normal, right? Manusiawi! Saat itu, aku juga sedang belajar untuk bisa mencintai Ia. Lalu bagaimana dengan cintaku yang lain? cintaku pada-nya, yang bukan pada-Nya? Oooh...berarti aku harus mencintainya karena diri-Nya. Tapi, adakah yang tahu batasan untuk bisa mencintai dirinya karena diri-Nya? Meski berkali-kali lidahku berucap, Rabbana...aku mencintainya karena-Mu... Cintaku pada-Nya, sangatlah luas...begitupun dengan cintaku pada dirinya... pada dia... Namun bisakah cinta yang ada pada satu keping hati terbagi dua? atau cinta manakah yang porsinya lebih besar aku berikan? Bias...saat itu semua bias di mataku...
Hingga suatu hari aku sadar, cintaku padanya bertepuk sebelah tangan. Aku patah hati! Bahkan hingga menggugat Tuhan, Mengapa? Bukahkah aku sudah mencintainya karena-Mu?!Dan patah hati itu, telah menghancurkan semua mimpi, harapan, dan anganku. Telah membuatku sangat terpuruk dan gelap mata. Mengakhiri hidup? seringkali terlintas dalam benakku.
Aku meninggalkan semua yang ada di sekelilingku. Menjadi sosok intovert, lari dari semua aktivitas dan duniaku yang ada saat itu. Dunia menulisku, dunia organisasiku, dunia dakwahku... Semua kutinggalkan! Untuk apa? apakah dengan tetap berada di sana aka membuat cintaku kembali? Mencari cinta yang lain? Huff...aku tak berminat.

Satu setengah tahun. Waktu yang harus kuhabiskan untuk mengobati luka akibat patah hati itu. Dengan terseok, penuh darah dan air mata (terlalu hiperbolis, ding. cuma air mata doang kok :p). Jadi inget tawaran seseorang waktu chatting di YM saat itu, "Kamu mau aku antar ke psikiater? Di Bandung ada psikiater bagus, namanya -tuuutt-" Ha...Ha...ha... Yeah, akhirnya aku ke psikiater juga. Hanya saja bukan atas saran dia, tapi si tante psikiater itu kawan ibuku.
Patah hati itu, ternyata harus kubayar mahal. Sangat mahal! Karena aku membayarnya dengan kehilangan sahabat-sahabatku... Sebenarnya, tidak pyur kehilangan mereka, hanya saja, ternyata mereka sudah sangat jauh berlari di depanku. Sahabat-sahabat penulis sudah banyak yang mengeluarkan buku, cerpen, essay, bahkan jadi penulis skenario. Sahabat-sahabat organisator sudah menjadi "orang-orang terkenal" dalam dunia politik kampus di tempatnya masing-masing (bukannya narsis, tapi gw cuma mau bilang kalau SMANSA punya orang-orang yang sangat berpotensi di bidang itu). Sahabat-sahabat dakwah... Wuiihh...Top Abis!! Salut buat kalian, saudaraku semua... (sok banget gw masih yakin kalo mereka masih anggap gw sodara). Kalian sangat dibutuhkan di tengah bejatnya rimba dunia ini... Meski tak lagi aku berada di sana, bersama kalian menegakkan Islam. Namun selalu aku menatap dari sini, tersenyum...
Lalu, dimanakah aku saat mereka semua berlari? Aku... masih terpuruk di sini. Berharap ada diantara mereka yang berbalik untuk membantuku berdiri. Karena aku tak lagi jatuh dan terluka lecet di kaki. Namun sepertinya kakiku telah patah.Patah hati... Humm... untuk melihat seberapa besar cintamu pada sesuatu, lihatlah seberapa besar pengaruh yang terjadi saat akhirnya dirimu patah hati. Satu setengah tahun adalah waktu yang sangat lama (relatif juga sih, kata Om Einstein) dalam dunia persaingan. Ya, selain kehilangan mimpi, sahabat, ternyata aku juga kehilangan waktu. Bahkan kehilangan sebagian dari diriku...
Efek jelek? Humm...mungkin sampai sekarang masih ada sisa-sisa patah hati. Hingga membuatku takut untuk bermimpi. Tapi, bukankah orang yang paling patut dikasihani adalah orang yang tidak memiliki mimpi? Maka, mulailah aku belajar merajut mimpi... Mulai mencintai lagi... Aku bisa! Pasti! Hikmah? pasti ada. Aku tahu bagaimana rasanya jadi pecundang. HIngga aku juga harus tahu bagaimana rasanya jadi pemenang. Aku tahu bahwa musuh terbesar dalam hidupku adalah diriku sendiri. Aku tahu bahwa aku tidak boleh lagi berharap akan pertolongan orang lain. Bahasa egois yang sering muncul di benakku, "Gue, nggak butuh elu untuk bisa ngedapetin apa yang gue mau!"

Humm.. Yah, patah hati... sakit juga ternyata... "aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."


Baca Selanjutnya.....

Kamis, Juni 11, 2009

Membangun Saling Percaya dalam Hubungan Percintaan

Saling jatuh cinta saja seringkali belum cukup membuat orang langsung menikah, meskipun ada juga yang nekat melakukannya. Pada umumnya setelah saling jatuh cinta, para pasangan masih memerlukan proses membina hubungan hingga mereka benar-benar mantap sebagai pasangan. Dan pada umumnya dengan pernikahan seseorang ingin hidup bahagia sepanjang masa bersama pasangan. Sungguh terasa sangat manis ketika menjumpai berbagai pasangan muda yang memasuki gerbang perkawinan dengan masa pacaran yang cukup, dan memasuki perkawinan dengan mantap. Ketika memasuki perkawinan keduanya telah meyakini kualitas pribadi pasangan dan optimis akan hidup bahagia bersama. Sebagian dari pasangan bahagia ini adalah orang-orang muda yang memiliki kepribadian relatif stabil, dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis. Ada yang melewati masa-masa pacaran tanpa banyak gejolak, sebagian yang lain telah melalui masa-masa pengembangan hubungan yang bergejolak. Cemburu atau rasa kurang percaya merupakan hal yang cukup lumrah terjadi ketika dua insan mulai membangun komitmen hubungan jangka panjang

Tahapan pengembangan hubungan percintaan (Deaux et al., 1993):

1. Tahap perkenalan
Pada tahap ini terbentuk kesan pertama, dan selanjutnya terjadi interaksi.


2. Tahap pembentukan hubungan yang nyata

Pada tahap ini terjadi peningkatan saling ketergantungan. Terjadi peningkatan interaksi dan kehendak untuk saling membuka diri; mulai meluangkan waktu dan energi untuk hubungan tersebut; mengoordinasikan aktivitas satu sama lain; dan mengantisipasi interaksi yang menyenangkan di masa yang akan datang.

3. Tahap mempererat hubungan

Kemajuan dalam tahap ini tidak selalu mulus. Dapat terjadi ketegangan di antara keduanya. Contohnya, pasangan yang bercinta sering mengidealkan pasangannya, tetapi akhirnya menemukan karakteristik tidak ideal pada pasangannya.
Pada tahap ini kemungkinan terjadi kecemburuan, sebagai akibat pertumbuhan komitmen. Terdapat ungkapan, “Cemburu selalu lahir bersamaan dengan lahirnya cinta”.
Pada laki-laki, kecemburuan seringkali berhubungan dengan harga diri (self-esteem) atau status. Sementara pada perempuan, kecemburuan terutama berhubungan dengan ketergantungan yang kuat terhadap hubungan itu sendiri.

4. Tahap perkembangan komitmen yang nyata

Pada tahap ini terjadi perubahan perasaan-perasaan dan perilaku. Salah satu perubahan yang ada adalah terjadinya peningkatan kepercayaan (trust).
Pada beberapa kasus, perkembangan komitmen nyata yang dicapai pada tahap keempat ini merupakan hasil perkembangan dari cinta. Meski demikian, pada kasus di mana masyarakat mengatur perkawinan sebagai suatu keharusan, komitmen merupakan hasil dari kesepakatan formal, dan selanjutnya keterlibatan emosional serta cinta berkembang mengikuti lahirnya komitmen tersebut.





Baca Selanjutnya.....