Jumat, Desember 05, 2008

Remaja Juga Rentan Terkena HIV/ AIDS

Oleh: Surya Handayana
Sejak kasus HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Bali pada tahun 1987, angka pertumbuhan pengidap HIV/AIDS enggak kunjung turun. Yang lebih mencengangkan, ternyata remaja selalu menempati ranking pertama sebagai kelompok terbesar pengidap HIV/AIDS dibandingkan dengan kelompok usia lain. Bagi kita yang tergolong rentan tertular HIV/AIDS seperti berita di atas, tentu akan bertanya-tanya, Kenapa harus kita yang remaja? Jawaban pertanyaan tersebut sederhana saja, tapi enggak sederhana upaya penanganannya.

Selama ini, banyak di antara kita yang belum menyadari bahwa banyak tingkah laku atau perbuatan kita yang sangat berisiko tertular HIV/AIDS. Misalnya saja seks di luar nikah. Masih banyak di antara kita yang berpandangan bahwa seksualitas hanya masalah perawan atau enggak perawan. Padahal, hubungan seks di luar nikah cukup besar risikonya untuk menjadi hubungan seks yang enggak aman meskipun dilakukan dengan pacar sendiri. Hubungan seks yang enggak aman bisa menyebabkan kehamilan tidak diinginkan (KTD). KTD sendiri kelak bisa menimbulkan masalah lain, baik fisik, sosial, maupun mental. Risiko lain dari hubungan seks seperti ini adalah terkena infeksi menular seksual (IMS) yang dapat menyebabkan kemandulan dan makin membuat kita rentan terhadap HIV/AIDS.
Ketidaktahuan kita terhadap perilaku kita sendiri yang berisiko tertular HIV/AIDS inilah yang justru memicu kemungkinan untuk tertular dan bahkan menyebarkan HIV/AIDS di kalangan teman-teman kita. Meskipun begitu, kita memang bukan satu-satunya pihak yang dianggap paling bersalah.
Akses Informasi
Wajar aja sih, kalau kita belum tahu banyak soal kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS. Maklum, akses informasi tentang kedua hal ini, termasuk masalah pelayanan konsultasi dan medis tentang hal tersebut, masih sangat terbatas. Kalaupun ada, terkesan kurang akrab buat kita. Akibatnya, kita mencoba mencari informasi di media lain yang kurang mendidik, seperti media seks pornografi. Di kalangan kita, setidaknya ada tiga kelompok penting yang paling dekat dengan kehidupan kita, yaitu guru, ortu, dan teman-teman. Sayangnya komunikasi dengan ketiga pihak tersebut belum sepenuhnya optimal. Apalagi yang berkenaan dengan masalah seksualitas. Ada beberapa hal yang menyebabkannya.
1. Masih banyak ortu yang membatasi pembicaraan seksualitas dengan berbagai alasan. Seksualitas dianggap sebagai masalah tabu untuk dibicarakan. Akhirnya kita gagal mendapatkan informasi dari ortu yang seharusnya menjadi sumber informasi paling dekat dengan kita.
2. Masih ada guru yang cara berkomunikasinya cenderung kaku dan enggak terbuka. Padahal, guru memiliki segudang informasi tentang kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS. Beda dengan guru yang youth friendly. Pasti mereka bisa menjadi tempat curhat.
3. Sebagian besar dari kita menganggap hubungan dengan teman adalah yang paling ideal sehingga lebih enak diajak berbicara masalah apa pun. Sayangnya, informasi dari teman sering enggak proporsional dan keliru.
Budaya permisif
Meski kita bukan satu-satunya penyebab tingginya kasus HIV/AIDS di lingkungan kita, tetapi budaya serba boleh (permisif) di kalangan kita mendorong perilaku seks enggak aman dan narkoba semakin meningkat. Dampaknya terlihat dari tingginya kasus HIV/AIDS tersebut, di mana penularan HIV terbesar adalah melalui hubungan seksual yang enggak aman dan pemakaian narkoba dengan jarum suntik. Dalam diskusi dengan beberapa teman kadang muncul pernyataan terang-terangan, ...Ah, pacaran kalo cuma gandengan doang mah garing, enggak ciuman enggak asyik, lagi. Temen-temen juga sudah banyak kok yang sudah gituan (berhubungan seks Red). Gue nganggepnya fine-fine aja tuh.
Dari sisi kesehatan saja pernyataan tersebut sudah enggak benar, apalagi dari sisi norma agama dan norma sosial. Kalau cara pandang kita terhadap perilaku seksual semakin permisif, mustahil rasanya angka pengidap HIV/AIDS di kalangan kita akan menurun.
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menyikapi hal ini.
1. Buat media informasi tentang kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS di sekolah, seperti mading, buletin, atau kelompok diskusi kecil yang membahas masalah kesehatan reproduksi maupun HIV/AIDS dan narkoba.
2. Bangun komunikasi dengan ortu dan guru dalam suasana yang lebih terbuka. Kita jadi enggak ragu untuk menjadikan mereka tempat bertanya, sekaligus jadi tempat curhat.
3. Jauhkan diri dari tindakan atau perilaku yang bisa dikategorikan berisiko terhadap HIV/AIDS, baik terhadap kita sendiri maupun bersama teman-teman lain.
sumber: Harian kompas, Jumat, 15 Juli 2005

Baca Selanjutnya.....

Remaja dan Jender

Oleh Surya Handayana
Konsep jender merujuk kepada pembagian peranan dan tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan yang mempengaruhi pilihan, kebiasaan dan tingkah laku. Pembagian peranan sosial ini menempatkan laki-laki pada ruang lingkup pekerjaan di luar rumah dan perempuan di lingkup pekerjaan rumah tangga yaitu melahirkan dan membesarkan anak serta melayani keluarga. Jender merupakan variabel sosial ekonomi yang dipengaruhi oleh tingkat sosial, ras, agama, latar belakang ekonomi, dan usia. Oleh karena itu, perspektif jender berkaitan dengan remaja dan pekerjaan meningkatkan kemampuan kita untuk menjelaskan dan membuka bentuk-bentuk ketimpangan kesempatan dan pemenuhan kebutuhan antara remaja perempuan dan laki-laki.

Selama masa kanak-kanak dan remaja, identitas dibentuk melalui suatu proses dimana remaja dianggap menerima dan mengidentifikasi peranan melalui perilaku-perilaku yang dicontohkan. Peranan jender menjadi suatu kerangka yang terbentuk melalui identitas dan rancangan kehidupan yang dibangun. Laki-laki dipersiapkan untuk pekerjaan produktif dan perempuan sebagai ibu rumah tangga. Keadaan tersebut sejak dahulu tidak dapat dihindari dan menjadi sesuatu yang layak, yang membuat laki-laki menjadi mandiri secara ekonomi dan memiliki status kewarganegaraan penuh, sedangkan perempuan menjadi bergantung secara ekonomi dan memiliki status kewarganegaraan yang lemah. Oleh karena itu, ada perbedaan yang nyata antara remaja perempuan dan remaja laki-laki. Pada kenyataannya, kegiatan reproduksi, membesarkan anak, dan pekerjaan rumah tangga yang dianggap sebagai tanggung jawab perempuan, menjadi hambatan terbesar yang harus dihadapi perempuan untuk mencapai kesempatan yang setara. Dampak dari atribut peranan ini, menyebabkan ketidaksetaraan akses dan kontrol sumber daya, yang berpengaruh negatif terhadap penghargaan dan kepercayaan diri perempuan, yang pada akhirnya menyebabkan rendahnya status social dan pekerjaan mereka. Rantai sebab akibat ini membuat perempuan menjadi rentan akan kekerasasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga. Hal tersebut juga mempengaruhi ketimpangan pemenuhan kebutuhan rumah tangga.
Oleh karenanya perspektif jender sangat penting untuk pemahaman yang lebih baik berkaitan dengan remaja dan tenaga kerja. Peranan antara laki-laki dan perempuan yang telah terdefinisi sejak masa kanak-kanak, menjadi dinding pemisah bagi identitas laki-laki dan perempuan. Karena filosofi dasar ini sangat tertanam dalam keyakinan perempuan, yaitu bagaimana peranan yang harus dijalankan oleh laki-laki dan
perempuan, nilai-nilai kegiatan mereka, dan bagaimana hubungan mereka dengan orang tua dan suami, membuat hal tersebut diterapkan pula dalam lingkungan pekerjaan, yang menjadi dasar disusunnya pembagian jenis pekerjaan berdasarkan jenis kelamin.

Baca Selanjutnya.....

Remaja, Mencari Identitas dan Pengakuan

Oleh Surya Handayana
Tidak sedikit orang tua yang mengeluhkan anak remajanya susah diajak bicara dan perilakunya sukar dimengerti. Ada dua hal utama yang menjadi perhatian remaja. Pertama, identitas dan kepribadian. Sedang yang kedua, remaja membutuhkan pengakuan.
1. Identitas dan Kepribadian


Anak remaja memang seperti itu. Mereka akan berusaha tampil seperti idolanya. Kalau idolanya pemain sepak bola terkenal seperti David Backham, rambutnya akan dicukur mirip potongan rambut idolanya. Bahkan, anak remaja yang suka menonton film laga seperti Wiro Sableng, sering kali kakinya bergerak seolah menendang dan tangannya bergerak seolah-olah memukul atau menangkis pukulan. Dari sini terlihat bahwa anak remaja memang sedang mencari identitas diri. Yang pasti, idolanya bukan pribadi yang cengeng dan "memble", melainkan satu tokoh yang dianggapnya keren, gagah, dan populer. Ketika anak tidak mendapatkan sesuatu yang dapat dijadikan idola dari ayah atau ibunya, mereka tidak sulit untuk mengambil tokoh idolanya dari tayangan tv, komik, atau majalah. Apakah orang tua pernah menyediakan waktu untuk berbicara secara jujur dan terbuka dengan anak remajanya sehingga mengerti benar apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan, serta kerinduan hatinya?
Tidak sedikit orang tua yang menghadapi kesulitan karena sibuk bekerja, baik di luar maupun di dalam rumah sehingga tidak tersedia cukup waktu untuk berbicara dengan anak remajanya. "Koran Tempo" pernah memuat hasil survei yang menyatakan bahwa 59% orang tua di London sulit berperan sebagaimana layaknya orang tua, seperti meluangkan waktu untuk anak (Senin, 19 Juli 2004, hlm. B1). Juga harus dibuang mitos yang dipegang kebanyakan orang tua bahwa anak kelak juga akan mendapat pengertian sendiri sesuai dengan tingkat kedewasaan umurnya.
Sesungguhnya, remaja sangat membutuhkan bimbingan dan arahan untuk hidupnya. Berikan bimbingan dan pengarahan kepada remaja dengan kasih, tetapi tegas. Hindari cara memerintah dengan keras. Usahakan berbicara dengan sabar perihal hak dan tanggung jawab, pendidikan dan disiplin, juga hukum tabur-tuai. Misalnya, setiap sore ingatkan untuk menyelesaikan tugas sekolah, menyiapkan perlengkapan sekolah dan menaruh di meja belajarnya. Baru keesokan paginya diperiksa kembali sebelum dimasukkan ke dalam tas. Dengan cara itu, diharapkan tidak ada perlengkapan yang tertinggal. Demikian juga harus terus-menerus diingatkan untuk menyimpan pakaian, tas, sepatu di tempat yang disediakan agar tidak menimbulkan kesulitan ketika diperlukan.
Pembentukan kepribadian dapat diperoleh melalui didikan dan disiplin yang terus-menerus dengan sentuhan kasih. Didikan yang dimaksud bukanlah belajar di sekolah, melainkan didikan orang tua kepada anak sejak balita, anak-anak, dan remaja menuju dewasa. Remaja, bahkan sejak anak-anak, harus banyak mendapat didikan, pemberitahuan, informasi, nasihat, teguran, bahkan jangan dihindarkan hajaran atau disiplin bilamana diperlukan. Hajaran atau disiplin itu bisa berupa suatu hukuman tidak diberi uang saku untuk sementara waktu.
1. Remaja Butuh Pengakuan
Ada orang tua yang menyebutkan anak remajanya sangat cinta teman. Hampir sepanjang hari dan malam bersama teman-temannya sehingga sangat sedikit waktu berada di rumah, kecuali untuk tidur malam saja.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Orang tua harus mampu meneropong penyebab yang mengakibatkan perilakunya demikian. Remaja mendapat tempat dan pengakuan sebagai satu pribadi, baik dalam hal mengemukakan pendapat maupun dalam mengekspresikan dirinya di antara sesama temannya. Mereka dapat dengan leluasa berbicara dengan sesamanya, dapat bercerita asyik mengenai idolanya, hobi, dan kesukaannya tanpa takut dicemoohkan atau diremehkan.
Seorang remaja dengan jujur mengakui bahwa ia merasa lebih tenang dan khusyuk berdoa di gereja tetangganya daripada di gedung gereja lingkungannya sendiri di mana orang tuanya bergabung. Hal seperti ini memungkinkan terjadi di kota-kota. Janganlah hal seperti itu dipandang sebagai satu kesalahan yang perlu dicela, melainkan yang terpenting ialah bagaimana kita menyikapinya.

Baca Selanjutnya.....

Remaja, Mencari Identitas dan Pengakuan

Oleh Surya Handayana
Tidak sedikit orang tua yang mengeluhkan anak remajanya susah diajak bicara dan perilakunya sukar dimengerti. Ada dua hal utama yang menjadi perhatian remaja. Pertama, identitas dan kepribadian. Sedang yang kedua, remaja membutuhkan pengakuan.
1. Identitas dan Kepribadian


Anak remaja memang seperti itu. Mereka akan berusaha tampil seperti idolanya. Kalau idolanya pemain sepak bola terkenal seperti David Backham, rambutnya akan dicukur mirip potongan rambut idolanya. Bahkan, anak remaja yang suka menonton film laga seperti Wiro Sableng, sering kali kakinya bergerak seolah menendang dan tangannya bergerak seolah-olah memukul atau menangkis pukulan. Dari sini terlihat bahwa anak remaja memang sedang mencari identitas diri. Yang pasti, idolanya bukan pribadi yang cengeng dan "memble", melainkan satu tokoh yang dianggapnya keren, gagah, dan populer. Ketika anak tidak mendapatkan sesuatu yang dapat dijadikan idola dari ayah atau ibunya, mereka tidak sulit untuk mengambil tokoh idolanya dari tayangan tv, komik, atau majalah. Apakah orang tua pernah menyediakan waktu untuk berbicara secara jujur dan terbuka dengan anak remajanya sehingga mengerti benar apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan, serta kerinduan hatinya?
Tidak sedikit orang tua yang menghadapi kesulitan karena sibuk bekerja, baik di luar maupun di dalam rumah sehingga tidak tersedia cukup waktu untuk berbicara dengan anak remajanya. "Koran Tempo" pernah memuat hasil survei yang menyatakan bahwa 59% orang tua di London sulit berperan sebagaimana layaknya orang tua, seperti meluangkan waktu untuk anak (Senin, 19 Juli 2004, hlm. B1). Juga harus dibuang mitos yang dipegang kebanyakan orang tua bahwa anak kelak juga akan mendapat pengertian sendiri sesuai dengan tingkat kedewasaan umurnya.
Sesungguhnya, remaja sangat membutuhkan bimbingan dan arahan untuk hidupnya. Berikan bimbingan dan pengarahan kepada remaja dengan kasih, tetapi tegas. Hindari cara memerintah dengan keras. Usahakan berbicara dengan sabar perihal hak dan tanggung jawab, pendidikan dan disiplin, juga hukum tabur-tuai. Misalnya, setiap sore ingatkan untuk menyelesaikan tugas sekolah, menyiapkan perlengkapan sekolah dan menaruh di meja belajarnya. Baru keesokan paginya diperiksa kembali sebelum dimasukkan ke dalam tas. Dengan cara itu, diharapkan tidak ada perlengkapan yang tertinggal. Demikian juga harus terus-menerus diingatkan untuk menyimpan pakaian, tas, sepatu di tempat yang disediakan agar tidak menimbulkan kesulitan ketika diperlukan.
Pembentukan kepribadian dapat diperoleh melalui didikan dan disiplin yang terus-menerus dengan sentuhan kasih. Didikan yang dimaksud bukanlah belajar di sekolah, melainkan didikan orang tua kepada anak sejak balita, anak-anak, dan remaja menuju dewasa. Remaja, bahkan sejak anak-anak, harus banyak mendapat didikan, pemberitahuan, informasi, nasihat, teguran, bahkan jangan dihindarkan hajaran atau disiplin bilamana diperlukan. Hajaran atau disiplin itu bisa berupa suatu hukuman tidak diberi uang saku untuk sementara waktu.
1. Remaja Butuh Pengakuan
Ada orang tua yang menyebutkan anak remajanya sangat cinta teman. Hampir sepanjang hari dan malam bersama teman-temannya sehingga sangat sedikit waktu berada di rumah, kecuali untuk tidur malam saja.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Orang tua harus mampu meneropong penyebab yang mengakibatkan perilakunya demikian. Remaja mendapat tempat dan pengakuan sebagai satu pribadi, baik dalam hal mengemukakan pendapat maupun dalam mengekspresikan dirinya di antara sesama temannya. Mereka dapat dengan leluasa berbicara dengan sesamanya, dapat bercerita asyik mengenai idolanya, hobi, dan kesukaannya tanpa takut dicemoohkan atau diremehkan.
Seorang remaja dengan jujur mengakui bahwa ia merasa lebih tenang dan khusyuk berdoa di gereja tetangganya daripada di gedung gereja lingkungannya sendiri di mana orang tuanya bergabung. Hal seperti ini memungkinkan terjadi di kota-kota. Janganlah hal seperti itu dipandang sebagai satu kesalahan yang perlu dicela, melainkan yang terpenting ialah bagaimana kita menyikapinya.

Baca Selanjutnya.....

Sisi Positif Kepribadian Melankolis Sempurna

1. Emosi Melankolis Sempurna
a. Mendalam dan penuh pikiran
b. Analitis
c. Serius dan tekun
d. Cenderung jenius
e. Berbakat dan kreatif
f. Artistik atau musical
g. Filosofis dan puitis
h. Menghargai keindahan
i. Perasa terhadap orang lain
j. Suka berkorban
k. Penuh kesadaran
l. Idealis
2. Melankolis Sempurna Sebagai Orangtua
a. Menetapkan standar tinggi
b. Ingin segalanya dilakukan dengan benar
c. Menjaga rumah selalu rapi
d. Merapikan barang anak-anak
e. Mengorbankan keinginan sendiri untuk yang lain
f. Mendorong intelegensi dan bakat


1. Melankolis Sempurna Di Pekerjaan
a. Berorientasi jadwal
b. Perfeksionis, standar tinggi
c. Sadar perincian
d. Gigih dan cermat
e. Tertib dan terorganisasi
f. Teratur dan rapi
g. Ekonomis
h. Melihat masalah
i. Mendapat pemecahan kreatif
j. Perlu menyelesaikan apa yang dimulai
k. Suka diagram, grafik, bagan, daftar

2. Melankolis Sempurna Sebagai Teman
a. Hati-hati dalam berteman
b. Puas tinggal di latar belakang
c. Menghindari perhatian
d. Setia dan berbakti
e. Mau mendengarkan keluhan
f. Bisa memecahkan masalah orang lain
g. Sangat memperhatikan orang lain
h. Terharu oleh air mata penuh belas kasihan
i. Mencari teman hidup ideal
Dikutib dari buku Personality Plus.

Baca Selanjutnya.....