Selasa, September 16, 2008

Kiat-kiat Menghilangkan Rasa Jenuh Menjadi Kegairahan

Jenuh seringkali menjadi faktor yang berdampak buruk pada kinerja seseorang saat bekerja. Rasa jenuh juga sering menjadi alasan seseorang yang memutuskan berhenti dari pekerjaannya.

Sebenarnya ada beberapa kiat yang bisa Anda lakukan untuk mengusir jenuh, tanpa harus mengorbankan pekerjaan Anda. Bila Anda mampu melakukannya, bisa jadi rasa jenuh dan bad mood akan berganti menjadi hal sesuatu yang menggairahkan. Mau tahu caranya?

1. Pikirkan hal-hal yang
menyenagkan

Coba pikirkan dan tulis apa yang Anda sukai dari pekerjaan Anda saat ini. Meski agak sulit di saat jenuh menyerang, namun tulislah hal pertama yang terlintas dari pikiran Anda. Setelah itu, baca kembali. Bila ada yang tertinggal, segera tambahkan. Misalnya, teman setim yang sangat baik pada Anda, menyenangkan untuk diajak bekerjasama, dapat dipercaya, atau hal-hal lain yang menyenangkan yang sebelumnya selalu membuat pekerjaan Anda menjadi lancar dan menggairahkan




Jenuh seringkali menjadi faktor yang berdampak buruk pada kinerja seseorang saat bekerja. Rasa jenuh juga sering menjadi alasan seseorang yang memutuskan berhenti dari pekerjaannya.

Sebenarnya ada beberapa kiat yang bisa Anda lakukan untuk mengusir jenuh, tanpa harus mengorbankan pekerjaan Anda. Bila Anda mampu melakukannya, bisa jadi rasa jenuh dan bad mood akan berganti menjadi hal sesuatu yang menggairahkan. Mau tahu caranya?

1. Pikirkan hal-hal yang
menyenagkan

Coba pikirkan dan tulis apa yang Anda sukai dari pekerjaan Anda saat ini. Meski agak sulit di saat jenuh menyerang, namun tulislah hal pertama yang terlintas dari pikiran Anda. Setelah itu, baca kembali. Bila ada yang tertinggal, segera tambahkan. Misalnya, teman setim yang sangat baik pada Anda, menyenangkan untuk diajak bekerjasama, dapat dipercaya, atau hal-hal lain yang menyenangkan yang sebelumnya selalu membuat pekerjaan Anda menjadi lancar dan menggairahkan


2. Curhatlah pada teman

Bila Anda punya sahabat di kantor yang dapat diandalkan, cobalah untuk melepaskan unek-unek padanya. Ajak teman Anda untuk bersenang-senang selepas jam kerja, misalnya dengan menonton film atau sekedar berwisata kuliner. Dengan sahabat, Anda akan merasa lebih nyaman dan mendapatkan dukungan


3. Belajar dari orang
lain

Perhatikan siapa orang di kantor yang paling enjoy dengan pekerjaannya. Cari tahu apa rahasianya, sehingga bisa betah dengan pekerjaannya. Siapa tahu Anda bisa menimba ilmu darinya, dan belajar menikmati pekerjaan meski dalam kondisi yang sulit dan penuh tekanan.

4. Daftar sumber
penyakit

Buat daftar apa saja yang membuat Anda tertekan dan tidak nyaman saat berada di kantor. Dengan mengenali sumber "penyakit" yang membuat Anda tak betah, Anda akan dapat melakukan berbagai perubahan


5. Beristirahat, jauhi
kantor

Ambil cuti dan "jauhi" kantor. Dengan mengambil waktu istirahat yang cukup dan menjauh dari rutinitas kantor, Anda punya kesempatan untuk mencerahkan diri. Sehingga Anda kembali punya semangat baru dan siap untuk bekerja lebih semangat.

6. Perbaiki situasi dan lingkungan
pekerjaan

Berusahalah untuk memperbaiki situasi, baik dari dalam diri maupun yang berkaitan dengan lingkungan pekerjaan. Lakukan sesegera mungkin. Perbaikan hubungan Anda dengan pekerjaan akan mempengaruhi perilaku Anda di kantor.

7. Buat perbedaan dan

perubahan
Lakukan hal-hal yang paling menonjol dan membutuhkan detail, sehingga Anda dapat membuat perbedaan besar dalam karir Anda. Begitu pula bila ada perubahan dalam hal pekerjaan, Anda akan siap
menghadapinya

8. Tingkatkan pengethuan

Ikuti berbagai kursus atau pelatihan, meski membutuhkan biaya namun ilmu baru akan dapat meningkatkan kemampuan dan memperbaiki kinerja Anda di kantor


Baca Selanjutnya.....

Sabtu, September 13, 2008

KESEHATAN SEKSUAL

Jangan heboh dulu deh! Mentang mentang ada kata “seksual” jangan terus pada panik. Sekarang khan memang udah waktunya kita enggak terlalu alergi lagi dengan istilah “seksual”, karena sebenarnya semakin kita paham artinya, semakin kita akan merasa bahwa bicara mengenai seksualitas bagi kita, para remaja, adalah sangat penting. Kesehatan reproduksi dan seksual adalah bagian penting dari hidup kita, yang akan sangat mempengaruhi kualitas diri kita sebagai manusia seutuhnya. Nah, setelah minggu kemarin kita membahas pentingnya ngomongin masalah seksualitas sama ortu, sekarang kita lanjutin dengan diskusi mengenai apa sebenarnya kesehatan seksual itu. Buat kalian kalian yang masih alergi atau menganggap seks adalah sesuatu yang kotor dan enggak pantas dibicarakan, simak aja terus, siapa tahu bisa ngasih gambaran baru.


WHO (World Health Organization) menjelaskan arti kesehatan seksual sebagai gabungan dari kondisi sehat secara fisik, emosi, intelektual serta sosial dalam hal seksualitas yang akan memperkaya kepribadian, kemampuan mengekspresikan cinta dan kasih saying serta kemampuan berkomunikasi . Sedangkan Menurut IPPF (International Planned Parenthood Federation), yang dimaksud kesehatan reproduksi/seksual adalah suatu kondisi yang mencakup kesehatan fisik, mental dan sosial, dalam arti bahwa kesehatan reproduksi enggak semata-mata ngebahas tentang struktur biologis cowok dan cewek aja, tetapi juga meliputi pengetahuan sistem dan fungsi reproduksi, penyakit menular seksual, HIV/AIDS, serta membongkar mitos-mitos seksualitas. Biasanya nih, terjadinya perilaku seksual yang tidak sehat pada remaja diawali dari kurang tepatnya informasi seks dan minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi/seksual. Kollaman 1998, dalam kajiannya menyebutkan bahwa perilaku seksual yang tidak sehat dan bertanggung jawab tersebut banyak menimbulkan persoalan kesehatan reproduksi seperti kehamilan yang enggak diinginkan, pengguguran kandungan dan tertularnya penyakit menular seksual (termasuk infeksi saluran reproduksi). Mereka yang sehat secara seksual memiliki kemampuan untuk melindungi diri mereka sendiri dari berbagai penyakit serta kehamilan yang tidak dikehendaki, sadar akan sikap dan perilaku seksual mereka, serta mampu bertanggungjawab terhadap perilaku seksual mereka. Mereka juga percaya bahwa mengembangkan kesehatan seksual adalah bagian dari upaya hidup sehat. Enggak ada yang lebih penting lagi dari kesehatan seksual kita selain kemampuan bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan pada tubuh kita. Menentukan nilai kita, menerapkannya serta menerima konsekuensi terhadap tindakan kita akan membantu kita menjaga rasa memiliki tubuh sendiri dan melindunginya dengan baik. Jadi kita musti ngerti dan paham betul resiko resiko berbahaya yang ujung ujungnya bisa merugikan diri sendiri atau orang lain.

Nah, sebagai remaja yang sehat secara seksual, kita bisa menerima dan menghargai diri dan tubuh kita, menghargai bagaimana bentuk tubuh kita, dan secara umum senang dan puas dengan penampilan kita. Kita musti tahu bagaimana cara kerja organ-organ tubuh kita sehingga kita jadi paham bagaimana menjaga agar semua organ tersebut bekerja dengan baik. Untuk mendapatkan kesehatan seksual, kita akan mengupayakannya misalnya dengan jalan makan dengan baik, olah raga, enggak merokok atau nge-drug, minum minuman beralkohol, serta melakukan pemeriksaan medis secara rutin dan mengembangkan perilaku seksual yang sehat. Singkat kata, bagaimana merawat dan menjaga tubuh kita dengan baik ! Satu hal yang penting dalam kesehatan reproduksi/seksual adalah bagaimana remaja bisa memahami anatomi dan fungsi organ reproduksi, bagi cewek seperti indung telur (ovarium), fimbria, saluran telur (tuba fallopii), rahim (uterus), mulut rahim (cervix), liang senggama (vagina) dan mulut vagina (vulva). Sedangkan untuk organ reproduksi cowok meliputi penis, uretra, buah zakar (testis), saluran sperma (vas defferens), kelenjar prostat dan kelenjar seminalis, epidedemis, kandung kemih dan kantung zakar (scortum).

Sebagai remaja yang sehat secara seksual, kita juga mempelajari gimana sih kondisi yang normal pada tubuh kita, sehingga bisa membedakan kalau ada perubahan perubahan atau kondisi enggak normal yang mungkin merupakan awal dari sesuatu yang membahayakan. Kalau kita enggak ngerti kita mesti tahu kemana minta bantuan atau bertanya untuk mendapatkan informasi yang baik dan komplit. Survei membuktikan, bahwa kebanyakan remaja sering kebingungan dengan perubahan yang terjadi pada tubuhnya, terutama kala memasuki masa pubertas. Orang bilang, masa remaja merupakan masa perubahan atau masa peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Masa itu tentu disertai dengan perubahan fisik seperti tumbuhnya rambut di daerah ketiak dan kelamin, tubuh yang kian berbentuk (bagi cewek payudara membesar sedangkan cowok badanya lebih berotot) serta berfungsinya alat-alat reproduksi. Hal paling jelas adalah kalau cewek dia akan mengalami menstruasi, sedangkan kalau cowok tentu saja mimpi basah. Nah, masalahnya adalah, apakah kita udah bener-bener paham terhadap berbagai konsekuensi serta resiko yang berkaitan dengan perkembangan tersebut? Yang jelas, kalau kita udah mens atau mimpi basah berarti secara reproduktif kita udah matang. Kalau melakukan hubungan seksual ya berarti bisa hamil. Pada saat masa puber dorongan seksual kita menggebu-gebu dan sangat mudah terangsang. Cuman masalahnya pada saat itu kita belum boleh melakukan hubungan seksual karena kita belum siap berumah tangga, memelihara anak, dan menjadi orangtua. Yang jelas, secara emosional, finansial, dan sosial kita enggak siap. Nah, makanya kita musti tahu bagaimana caranya mengelola dorongan seksual kita dengan baik sehingga enggak membahayakan diri kita. Kemampuan mengelola dorongan seksual inilah yang juga akan membedakan tingkat kesehatan seksual kita dengan orang lain.

Sehat secara seksual berarti juga percaya diri, memiliki kemampuan mengemukakan pendapat, keinginan ataupun keberatan kita kepada orang lain, terutama pacar kita, misalnya. Hal ini akan tercermin pada kemampuan menolak ajakan atau paksaan melakukan perilaku seksual yang tidak sehat dan bertanggungjawab, serta kemampuan mengenali berbagai bentuk pelecehan seksual yang dikenakan padanya dan bersikap tegas terhadap perlakuan tersebut. Rasa tidak percaya diri, misalnya karena enggak puas dengan dirinya dan merasa enggak menarik, akan mengurangi kemampuan berkomunikasi yang sehat dengan orang lain. Hal ini menyebabkan kemampuan menjaga diri dan mengemukakan perasaan menjadi rendah. Jadi temen-temen, salah satu keahlian yang paling penting dalam menjaga kesehatan seksual kita adalah komunikasi. Selama ini hal-hal yang berbau seks ditabukan, sehingga seringkali remaja enggak punya keberanian membicarakan masalah yang berkaitan dengan seksualitas, termasuk kelainan-kelainan yang mereka rasakan. Padahal, ketidaktahuan akan apa yang harus kita lakukan justru membawa kita kepada resiko yang mengancam kesehatan seksual kita termasuk ancaman kematian. Inget aja kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan! Misalnya, ada cewek yang merasa ada benjolan di payudaranya: gara-gara malu dia diemin aja, dan enggak berusaha untuk membicarakannya dengan ortu, atau dokter. Padahal, benjolan itu bisa jadi merupakan tanda ketidaknormalan dan bisa jadi sangat berbahaya, misalnya kanker payudara. Keputihan, bisa jadi sesuatu yang normal, akan tetapi dalam kondisi tertentu bisa merupakan tanda infeksi yang berbahaya.

Pengetahuan dan kemampuan merawat organ reproduksi/seksual juga merupakan hal yang sangat penting dalam upaya mendapatkan kesehatan seksual. Kalau cewek udah menstruasi, bagaimana menjaga agar organ reproduksinya tetep bersih dan sehat? Bagaimana cara menggunakan pembalut dengan baik? Berapa kali harus diganti dalam sehari? Bagaimana memilih pakaian dalam yang sehat? Bagaimana melakukan pemeriksaan untuk diri sendiri? Berbagai macam hal praktis yang sederhana akan tetapi sangat penting diketahui ini jarang kita dapatkan dari ortu atau guru di sekolah. Demikian juga para cowok, penting lho mengetahui bagaimana memeriksa testis sendiri untuk mengetahui adanya kelainan, apa yang perlu dilakukan untuk menjaga kebersihan penis yang tidak disunat, dan lain sebaginya. Kalau temen-temen penasaran dan merasa banyak yang musti dipelajari tentang hal hal tersebut diatas, simak aja Curhat minggu depan, kami akan bahas satu persatu (asik khan?). Nah temen-temen, ternyata kesehatan seksual maknanya enggak seserem yang kita bayangin kan? Makanya sekarang udah waktunya kita melihat seksualitas dengan cara lebih positif, enggak cuman ngebayangin yang “ngeres-ngeres” aja, dan mendukung program-program pendidikan seksualitas yang ada di sekeliling kita, kalau perlu ikut berpartisipasi, siapa tahu pengetahuan yang kita miliki selain berguna untuk diri kita sendiri juga akan bisa menyelamatkan hidup saudara kita, temen kita, atau orang-orang lain disekitar kita. Okay? Okay dong!





Baca Selanjutnya.....

Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk remaja Sebuah Kebutuhan ataukah Malapetaka?

Beberapa saat yang lalu, masyarakat digemparkan oleh berita tentang cuti hamil untuk siswi yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), yang dilansir secara besar – besaran di media massa. Disusul kemudian berbagai komentar dan tanggapan dari pihak masyarakat terhadap usulan dari Ibu Khofifah, selaku Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan / Kepala BKKBN tersebut, termasuk salah satunya adalah Kakanwil Yogyakarta ( dimuat di Harian Bernas Feb 2001) yang menyatakan bahwa siswi yang hamil tersebut harus dihukum seberat – beratnya bukannya malah diberikan kelonggaran dengan cuti hamil. Nh, kalo kayak gini bakal muncul pertanyaan dalam benak kita bagaimana dengan “sang pacar tercinta” yang bikin hamil tersebut, apakah dia juga bakal dapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, ataukah justru ia bebas berlenggang, lolos dari sanksi yang diterapkan oleh pihak sekolah? Di lain pihak bakal muncul permasalahan lain dengan maraknya kasus kehamilan tidak diinginkan ini, yaitu apakah hal ini diakibatkan karena remaja terlalu banyak menerima informasi tentang seksualitas ataukah justru karena kita nggak tahu sama sekali? Akibatnya banyak anggapan miring tentang diberikannya pendidikan seksualitas untuk remaja karena justru akan membuat remaja mencoba – coba / bereksperimen dengan perilaku seks yang beresiko. Nah,lo…bener nggak sih opini ini?


Masalah kesehatan reproduksi memang merupakan sebuah masalah yang pelik bagi remaja, karena masa remaja merupakan masa di mana manusia mengalami perkembangan yang pesat baik fisik, psikis maupun sosial. Di mana perubahan ini juga akan berdampak pada perilaku remaja tersebut. Perkembangan fisik ditandai dengan semakin matang dan mulai berfungsinya organ – organ tubuh termasuk organ reproduksinya. Perubahan psikis yang dialami pada masa pubertas tersebut adalah lebih perhatian terhadap diri sendiri, lebih perhatian dan juga ingin diperhatikan oleh lawan jenisnya, dengan menjaga penampilanya. Termasuk dalam perubahan secara psikis ini adalah inginnya si remaja manjadi mandiri tanpa harus diatur – atur lagi oleh orang tua. Sedangkan perubahan social yang dialaminya adalah bahwa remaja pada fase ini akan lebih dekat dengan teman sebayanya dibandingkan dengan orang tuanya sendiri. Hal ini tentu banyak sekali akibatnya, salah satunya adalah sumber informasi, karena remaja cenderung lebih dekat dengan teman sebayanya maka kemungkinan iapun akan lebih percaya pada informasi yang berasal dari teman – temannya, termasuk informasi tentang seksualitas. Padahal informasi seperti itu belum tentu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Inilah yang akhirnya memunculkan mitos-mitos di seputar seksualitas, sebuah informasi yang belum pasti kebenarannya, namun sudah terlanjur dipercaya oleh remaja. Mitos yang paling ngetren di kalangan remaja adalah hubungan seks ( HUS ) sekali nggak bakalan bikin hamil. Atau HUS adalah tanda cinta dan sayang khususnya di hari-hari spesial seperti ‘hari jadian’, ultah ataupun valentine day. Namun ternyata dari kejadian inilah angka KTD pun membengkak setiap tahunnya. Salah satu cara menyikapi mitos-mitos tersebut adalah dengan memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi dengan tepat dan benar, dan hal ini tercakup dalam pendidikan kesehatan reproduksi / seksualitas. Pendidikan seksualitas bukan sekedar memberi informasi yang lengkap mengenai seksualitas, misalnya dari sudut pandang bilogis yaitu tentang organ reproduksi tetapi juga mengajarkan ketrampilan untuk memilih dan mengkomunikasikan pilihannya, serta mengajarkan laki-laki untuk lebih menghormati perempuan dengan demikian pendidikan seksualitas justru melindungi remaja dari resiko hubungan seks yang tidak terlindungi. Mengingat rasa ingin tahu remaja yang besar maka memaparkan fakta dan strategi pengambilan keputusan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam pendidikan seksualitas. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar pendidikan seks yang diberikan sesuai dengan kebutuhan remaja, serta tidak menyimpang dari prinsip pendidikan seksualitas itu sendiri.

Kriteria tersebut adalah :

1. pendidikan seksualitas harus didasarkan pada penghormatan atas hak reproduksi dan hak seksual remaja untuk mempunyai pilihan

2. berdasarkan pada kesetaraan gender

3.melibatkan remaja untuk berpartisipasi dalam semua aspek pendidikan seksualitas
4. dilakukan secara formal maupun non formal

5. pendidikan seksualitas haruslah dilengkapi dengan peningkatan akses terhadap layanan yang terjangkau, friendly ( ramah ), dan tidak membeda-bedakan


Nah, kita bisa lihat khan, kalau pendidikan seksualitas tuh merupakan sebuah kebutuhan bagi kita para remaja, untuk mengurangi dahaganya atas informasi seksualitas yang benar dan bertanggung jawab yang tidak pernah kita dapatkan dari manapun, dari keluarga, sekolah maupun dari sumber-sumber lain. Apalagi saat ini tantangan yang dihadapi oleh remaja tidaklah ringan di mana kita musti berada di jaman yang serba modern, semua serba ada dan tersedia sehingga hanya kita sendirilah yang bisa mengontrol perilaku berkaitan dengan masalah seksualitas. Sehingga dengan adanya bekal pendidikan seksualitas ini harapannya adalah kita bakal menjadi lebih berdaya, bisa memutuskan mana yang terbaik untuk kita dengan segala resiko yang harus ditanggung. Masyarakat menganggap bahwa pendidikan seksualitas merupakan sebuah malapetaka karena adanya persepsi / anggapan yang keliru tentang pendidikan seks itu sendiri di mana pendidikan seks selalu dianggap identik dengan mengajari remaja untuk berhubungan seks, padahal masalah seksualitas itu sangatlah luas dari semenjak manusia lahir sampai ia mati. Kebutuhan ataukah malapetaka sangat tergantung pada bagaimana masyarakat bisa memahami remaja, sebagai seorang yang sedang berada di persimpangan jalan bingung untuk memilih jalan mana yang harus ia lalui, dan pendidikan seksualitas itu berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi remaja.


Baca Selanjutnya.....