Sabtu, September 13, 2008

Potret remaja dalam data

Kayaknya kita semua udah pada tahu deh, Fase usia remaja tuh merupakan masa dimana manusia sedang mengalami perkem¬bangan yang begitu pesat, baik secara fisik, psikologis dan sosial. Perkembangan secara fisik ditandai dengan semakin matangnya organ-organ tubuh termasuk organ reproduksinya. Secara sosial perkembangan ini ditandai dengan semakin berkurangnya ketergantungan dengan orang tuanya, sehingga remaja biasanya akan semakin mengenal komunitas luar dengan jalan inter¬aksi sosial yang dilakukannya di sekolah, pergaulan dengan sebaya maupun masyarakat luas. Pada masa ini pula, ketertarikan dengan lawan jenis juga mulai muncul dan berkembang. Rasa ketertarikan pada remaja kemudian dimunculin dalam bentuk (misalnya) berpacaran di antara mereka. Berpacaran berarti upaya untuk mencari seorang teman dekat dan di dalamnya terdapat hubungan belajar mengkomunikasikan kepada pasangan, membangun kedekatan emosi, dan proses pendewasaan kepribadian. Kemudian berpacaran biasa¬nya dimulai dengan membuat janji, dating lalu bikin komitment tertentu dan apabila di antara remaja ada kecocokan maka akan dilanjutkan dengan berpacaran. Pacaran? Bosen ah! …..Eit! jangan salah. Pacaran sih emang sudah sering dibahas. Tapi diskusi kita kali ini lebih oke, karena kita bakal ngelihat data yang berupa angka perilaku remaja kita kalo pacaran. Asik khan? Makanya baca terus….


Pacaran remaja enggak selamanya merupakan sebuah cerita yang bersifat manis dan dapat dinikmati oleh kedua belah pihak. Banyak persoalan yang kemudian muncul di antara mereka dalam menjalani dan menapaki perjalanan kisah-kasih asmara. Berdasarkan laporan yang berhasil dikumpulkan dari rekap Konseling Sahaja-PKBI DIY pada tahun 1998 hingga 1999 tampak bahwa hampir separo (48 persen) dari 1.514 klien yang melakukan konsultasi mengalami permasalahan seputar pacaran. Persoalan-persoalan yang muncul di luar perilaku seksual dalam pacaran antara lain komunikasi (40 persen), taksir menaksir (25 persen), perselingkuhan (11 persen) serta permasalahan patah hati, kekerasan, persiapan pernikahan, beda agama, konflik dengan pihak ketiga dan lain sebagainya. (lihat tabel).

Masalah pacaran remaja

Masalah prosentase (%)

taksir menaksir 25

ditolak atau menolak 4

patah hati 5

komunikasi 30

kekerasan fisik 1

kekrasan psikologis atau verbal 2

persiapan pernikkahan 2

belum punya pacar 2

beda agama 2

konflik dengan pihak ketiga 7

pacaran jarak jauh 2

gonta-ganti pacar 1

perselingkuhan 4

lain-lain 11

sumber: karakteristik klien youth center PKBI DIY (Januari-Juli 1999)


Seringkali, karena minimnya informasi yang benar mengenai pacaran yang sehat, maka terkadang tidak sedikit remaja saat berpacaran unsur nafsu seksual menjadi unsur dominan. Jenis perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja dalam berpacaran biasanya bertahap mulai dari timbulnya perasaan saling tertarik yang kemudian akan diikuti oleh kencan, bercumbu dan akhirnya melakukan hubungan seksual. Hasil Baseline Survai Lentera-Sahaja PKBI Yogyakarta memperlihatkan bahwa perilaku seksual remaja mencakup kegiatan mulai dari berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, necking, petting, hubungan seksual, sampai dengan hubungan seksual dengan banyak orang.
Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa perilaku seksual pada remaja ini mempunyai korelasi dengan sikap remaja terhadap seksualitas. Penelitian Sahabat Remaja tentang perilaku seksual di empat kota menunjukkan bahwa 3,6 persen remaja di kota Medan; 8,5 persen remaja di kota Yogyakarta dan 3,4 persen remaja di kota Surabaya serta 31,1 persen remaja di kota Kupang telah terlibat hubungan seks secara aktif. Penelitian yang pernah dilak¬ukan oleh Pusat Penelitian Kependudukan UGM menemukan bahwa 33,5 responden laki-laki di kota Bali pernah berhubungan seks, sedangkan di desa Bali sebanyak 23,6 persen laki-laki. Di Yogyakarta kota sebanyak 15,5 persen sedangkan di desa sebanyak 0,5 persen. Di samping itu, perkembangan jaman juga akan mempengaruhi perilaku seksual dalam berpacaran para remaja. Hal ini misalnya dapat dilihat bahwa hal-hal yang ditabukan remaja pada beberapa tahun yang lalu seperti berciuman dan bercumbu sekarang dibenarkan oleh remaja saat ini. Bahkan ada sebagian kecil dari mereka setuju dengan free sex. Perubahan terhadap nilai ini misalnya terjadi dengan pandangan remaja terhadap hubungan seks sebelum menikah. Dua puluh tahun yang lalu hanya 1,2 - 9,6 persen setuju dengan hubungan seks sebelum menikah. Sepuluh tahun kemudian angka tersebut naik menjadi di atas 10 persen. Lima tahun kemudian angka ini naik menjadi 17 persen yang setuju. Bahkan ada remaja sebanyak 12,2 persen yang setuju dengan free sex.

Sementara itu kasus-kasus kehamilan yang tidak dikehendaki sebagai akibat dari perilaku seksual di kalangan remaja juga semakin meningkat dari tahun ke tahun. Walaupun sulit untuk diketahui secara pasti di Indonesia angka kehamilan sebelum menikah, tetapi dari berbagai penelitian tentang perilaku seksual remaja menya¬takan tentang besarnya angka kehamilan remaja. Catatan konseling Sahaja menunjukkan bahwa kasus kehamilan tidak dikehendaki yang tercatat pada tahun 1998/1999 tercatat sebesar 113 kasus. Beberapa hal menarik berkaitan dengan catatan tersebut misalnya, hubungan seks pertama kali biasanya dilakukan dengan pacar (71 %), teman biasa (3,5%), suami (3,5%); inisiatif hubungan seks dengan pasangan (39,8%), klien (9,7%), keduanya (11,5%); keputusan melakukan hubungan seks: tidak direncanakan (45%), direncanakan (20,4%) dan tempat yang biasa digunakan untuk melakukan hubungan seks adalah rumah (25,7%) hotel (13,3%). Konsekuensi dari kehamilan remaja ini adalah pernikahan remaja dan pengguguran kandungan. Hasil penelitian PKBI beberapa waktu yang lalu menunjukkan bahwa di Medan, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bali dan Manado angka kehamilan sebelum nikah pada remaja dan yang mencari pertolongan untuk digugurkan meningkat dari tahun ke tahun. Sebuah perkiraan yang dibuat oleh sebuah harian menunjukkan bahwa setiap tahun satu juta perempuan Indonesia melaku¬kan pengguguran dan 50 persen berstatus belum menikah serta 10-15 persen diantaranya remaja. Upaya pendampingan dari orang tua dan lembaga yang peduli kepada remaja adalah sebuah hal yang musti dilakukan, dan tentu aja pendampingan yang bersahabat, berpihak dan tahu akan kebutuhan remaja. Dan tentu saja, lagi lagi ujungnya adalah pentingnya pendidikan seksual bagi kita semua para remaja, agar kita ngerti bener diri dan tubuh kita, resiko resiko perilaku seksual kita, serta bagaimana memilih perilaku yang sehat dan bertanggung jawab.


(Pusat Studi Seksualitas-PKBI Yogyakarta, dari berbagai sumber dan news letter “Embrio” PKBI DIY)


Tidak ada komentar: